Minggu, 08 Januari 2012

AKHLAK SEORANG MUSLIM


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Akhlak merujuk kepada amalan, dan tingkah laku tulus yang tidak dibuat-buat yang menjadi kebiasaan. Manakala menurut istilah Islam, akhlak ialah sikap keperibadian manusia terhadap Allah, manusia, diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini bererti akhlak merujuk kepada seluruh perlakuan manusia sama ada berbentuk lahiriah mahupun batiniah yang merangkumi aspek amal ibadat, percakapan, perbuatan, pergaulan, komunikasi, kasih sayang dan sebagainya.
Dalam makalah ini yang di bahas adalah akhlak seorang muslim yaitu tentang bagaimana seharusnya perilaku seorang muslim terhadap Allah SWT, manusia, dan lingkungan sekitar. Sehingga nantinya seorang muslim akan menjadi seorang yang berakhlak mulia khususnya akhlak Kepada Allah SWT.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana pengertian dari akhlak?
2.      Apa sumber akhlak Islami?
3.      Bagaimana bentuk-bentuk akhlak Islami bagi seorang muslim?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.      Pengertian dari akhlak.
2.      Sumber akhlak Islami.
3.      Bentuk-bentuk akhlak Islami bagi seorang muslim.




BAB II
AKHLAK SEORANG MUSLIM

A.    Pengertian Akhlak Islami
Kata akhlak disadur dari bahasa Arab dengan kosakata al-Khulq yang berarti kejadian, budi pekerti dan tabiat dasar yang ada pada manusia.[1] Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan "akhlak" berasal dari bahasa Arab jama' dari bentuk mufradnya "Khuluqun" (خُلُقٌ) yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan "khalkun" (الخلاق) yang berarti kejadian, serta erat hubungan "Khaliq"  (الخالق) yang berarti Pencipta dan "Makhluk" (المخلوق) yang berarti yang diciptakan.[2]
Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak adalah: “Suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbanagan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara', maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk.[3]
Sedangkan menurut Ibnu Maskawaih yang ditulis kembali oleh Yusrina, akhlak adalah “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu)lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan”.[4] 
Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli di atas dapat  disimpulkan yang dimaksud dengan akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan. Jika dikaitkan dengan kata Islami, maka  akan berbentuk akhlak Islami, secara sederhana akhlak Islami diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang kata akhlak dalam menempati posisi sifat. Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebernya berdasarkan pada ajaran Islam.

B.     Sumber Akhlak Islam
Telah diketahui bahwa akhlak Islam merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertititk tolak dari aqidah yang diwahyukan Allah kepada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Akhlak Islam, karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepada kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari pada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok dari akhlak adalah al-Qur'an dan al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri.[5]
Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. Begitu juga sahabat-sahabat Beliau yang selalu berpedoman kepada al-Qur'an dan as-Sunah dalam kesehariannya.

C.    Bentuk-Bentuk Akhlak pada Seorang Muslim
Akhlak Islam yang diharapkan terbentuk dalam diri seorang muslim merupakan akhlak Islam yang mendasari perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut H. A. Rahman Ritonga, akhlak dapat dibedakan menjadi:
1.      Akhlak terhadap diri sendiri
Akhlak terhadap diri sendiri meliputi:
a.       Memelihara kesehatan diri dengan berolah raga.
b.      Mengatur makan dan minum secara teratur.
c.       Memelhara kesehatan hati dengan senantiasa berzikir kepada Allah.[6]
2.      Akhlak anak terhadap orangtua
Akhlak anak terhadap orangtua meliputi:
a.       Berbicara dengan lemah lembut kepada orangtua.
b.      Mengucapkan kata-kata yang mengangkat kehormatan orangtua.
c.       Memelihara orangtua yang sudah memasuki masa lanjut usia.
d.      Mendo’akan orangtua.
e.       Melaksanakan nasihat-nasihat yang baik dari orangtua.
f.       Menziarahi kubur orangtua yang sudah meninggal.[7]
3.      Akhlak terhadap tetangga
Meliputi:
a.       Tolong menolong antar sesama tetangga.
b.      Meminjamkan sesuatu yang dibutuhkan tetangga.
c.       Membantu tetangga dengan zakat.
d.      Menjenguk tetangga yang sakit.
e.       Saling memberikan nasihat dalam kebaikan dan kesabaran.[8]
Sedangkan menurut H. Moh. Ardani, Akhlak Al-karimah atau akhlak yang mulia sangat amat jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.      Akhlak Terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji demikian Agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan menjangkau hakekatnya.


2.        Akhlak terhadap Diri Sendiri
Akhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebgai ciptaan dan amanah Allah yang harus dipertanggung-jawabkan dengan sebaik-baiknya. Contohnya: Menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian jiwa, hidup sederhana serta jujur dan hindarkan perbuatan yang tercela.
3.      Akhlak terhadap sesama manusia
Manusia adalah makhluk sosial yang kelanjutan eksistensinya secara fungsional dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu, ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Islam menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, Karena ia berjasa dalam ikut serta mendewasaan manusia, dan merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukan dengan memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan dan menghargainya.[9]
Selanjutnya secara lebih khusus, Imam Al-Ghazali memberikan tuntunan cara berbakti kepada orangtua sebagai berikut:
a.       Selalu berkata-kata sopan kepada orangtua dan tidak mengahrdiknya.
b.      Selalu taat kepada perintah orangtua asalkan tidak kemaksiatan kepada Allah.
c.       Selalu bermuka ceria di depan orangtua.
d.      Selalu bermusyawarah ketika ada permasaahan.
e.       Bersegera jika orangtua memanggil.
f.       Selalu mendo’akan mereka.
g.      Tidak mendahului mereka pada saat makan dan minum bersama.
h.      Tidak pergi tanpa seizin orangtua.
i.        Memberikan hadiah sebagai ungkapan terima kasih kepada orangtua.
j.        Jika merokok, jangan merokok dihadapan orangtua.[10]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan beberapa bentuk akhlak seorang muslim adalah:
1.      Akhlak terhadap Allah
a.       Mengerjakan shalat lima waktu dengan teratur.
b.      Mengaji secara tartil.
2.      Akhlak terhadap diri sendiri
a.    Memelihara kesehatan diri dengan berolah raga.
b.    Mengatur makan dan minum secara teratur.
c.    Memelihara kesehatan hati dengan senantiasa berzikir kepada Allah.
3.      Akhlak terhadap orangtua
a.       Selalu berkata-kata sopan kepada orangtua dan tidak mengahardiknya.
b.      Selalu taat kepada perintah orangtua asalkan tidak kemaksiatan kepada Allah.
c.       Selalu bermuka ceria di depan orangtua.
d.      Selalu bermusyawarah ketika ada permasaahan.
e.       Bersegera jika orangtua memanggil.
f.       Selalu mendo’akan mereka.
g.      Tidak mendahului mereka pada saat makan dan minum bersama.
h.      Tidak pergi tanpa seizin orangtua.
i.        Memberikan hadiah sebagai ungkapan terima kasih kepada orangtua.
j.        Jika merokok, jangan merokok dihadapan orangtua.
4.      Akhlak terhadap sesama manusia
a.       Tolong menolong antar sesama tetangga.
b.      Meminjamkan sesuatu yang dibutuhkan tetangga.
c.       Membantu tetangga dengan zakat.
d.      Menjenguk tetangga yang sakit.
e.       Saling memberikan nasihat dalam kebaikan dan kesabaran.

D.    Hubungan Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak
Dalam Pendidikan Agama Islam. Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan intelektualitas dalam arti bukan hanya meningkatkan kecerdasan saja, melainkan juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, yang mencakup aspek keimanan, moral atau mental, prilaku dan sebagainya. Pembinaan kepribadian atau jiwa utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan khususnya pendidikan. Sasaran yang ditempuh atau dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia dan tingkat kemulian akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Dalam pembentukan akhlak siswa, hendaknya setiap guru menyadari bahwa dalam pembentukan akhlak sangat diperlukan pembinaan dan latihan-latihan akhlak pada siswa bukan hanya diajarkan secara teoritis, tetapi harus diajarkan ke arah kehidupan praktis. Agama sebagai unsur esensi dalam kepribadian manusia dapat memberi peranan positif dalam perjalanan kehidupan manusia, selain kebenarannya masih dapat diyakini secara mutlak.
Dalam hal pembentukan akhlak remaja, pendidikan agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupannya. Pendidikan agama berperan sebagai pengendali tingkah laku atau perbuatan yang terlahir dari sebuah keinginan yang berdaran emosi. Jika ajaran agama sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya sehari-hari dan sudah ditanamkannya sejak kecil,  maka tingkah lakunya akan lebih terkendali dalam menghadapi segala keinginankeinginannya yang timbul.











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Seorang muslim itu harus berakhlak baik. Karena kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah dan untuk menyembah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya dan tidaklah Kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya. Dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh  Allah, terutama melaksanakan ibadah-ibadah pokok, seperti shalat, zakat, puasa, haji, haruslah menjaga kebersihan badan dan pakaian, lahir dan batin dengan penuh keikhlasan. Tentu yang tersebut bersumber kepada al-Qur'an yang harus dipelajari dan dipelihara kemurnianya dan pelestarianya oleh umat Islam.

B.     Saran
Semoga dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang akhlak seorang muslim.










DAFTAR PUSTAKA

H. A. Rahman Ritonga, (2005), Akhlak Merakit Hubungan dengan Sesama Manusia, Surabaya: Amelia.
H.M. Ardani, (2005), Akhlak Tasawuf, Surabaya: Mitra Cahaya Utama.
Imam Al-Ghazali, (2007), Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, Surabaya: Bintang Usaha Jaya.
Yusrina, (2006), Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Pembentukan Akhlak Siswa di SMP YPI Cempaka Putih Bintaro, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.


[1]H. A. Rahman Ritonga, Akhlak Merakit Hubungan dengan Sesama Manusia, (Surabaya: Amelia, 2005), hlm. 7.
[2]Ibid.
[3]H.M. Ardani,  Akhlak Tasawuf, (Surabaya: Mitra Cahaya Utama, 2005), hlm. 29.
[4]Yusrina, Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Pembentukan Akhlak Siswa di SMP YPI Cempaka Putih Bintaro, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2006),hlm. 24.
[5]Ibid., hlm. 26.
[6]H. A. Rahman Ritonga, op.cit., hlm. 21-24.
[7]Ibid., hlm. 24-66.
[8]Ibid., hlm. 111-117.
[9]H. Moh. Ardani, op.cit., hlm. 49-57.
[10]Imam Al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2007), hlm. 146-148.

1 komentar:

  1. Best 777 Casino Resort Reviews: 7562 Reviews - Mapyro
    777 Casino Resort in Robinsonville, MS. See reviews, photos, directions, I like the room, but I just don't have a choice of hotel rooms, hotels,  구미 출장샵 Rating: 3.5 · ‎577 reviews · ‎Price 동두천 출장마사지 range: $ (Based on 보령 출장마사지 Average Nightly Rates for a Standard Room from 경주 출장안마 our 춘천 출장샵 Partners)Which popular attractions are close to 777 Casino Resort?What are some of the property amenities at 777 Casino Resort?

    BalasHapus